Kamis, 05 Desember 2013

eni sagita, kasus eni sagita, kasus lagu oplosan, eny sagita oplosan
Nganjuk - Berhembus kali pertama 2012 silam, kasus duplikat dan penyebarluasan lagu tanpa ijin yang dilakukan Eni Sagita kini memasuki babak baru.

Selaku pencipta lagu "Oplosan", Nur Bayan yang merupakan seniman asli Kediri menuntut Eny Sagita atas dasar alasan membawakan lagu yang kemudian mengedarkannya dalam bentuk kepingan CD tanpa seijinnya.

Penyanyi Dangdut yang juga pentolan dari grup orkes Jaranan Dangdut OM Sagita ini mengaku tidak tahu menahu bahwa setiap lagu yang dibawakan tiap artis harus mengantongi ijin terlebih dahulu. Karena adapun alasan kuat yang digunakan artis cantik bertubuh mungil ini dihadapan polisi adalah pihaknya beserta rombongan orkes tidak dengan sengaja melakukan pengedaran seperti yang dituduhkan. Dan kasus yang terjadi merupakan kewengan pihak EO (Event Organizer) yang berkuasa penuh atas hasil dokumentasi live show tersebut. Maka kalau bermodal alasan harus meminta ijin terlebih dahulu merupakan hal wajib, lantas mengapa hanya dia (Eny Sagita) sendiri yang harus dituntut. Mengapa hal ini tidak pelaporlakukan kepada artis lainnya.

Memang aroma deskriminatif mulai santer tercium di kasus ini. Ada benarnya pihak Eni Sagita geram dengan perlakuanhukum seperti ini. Tapi lebih dari itu kemana perhatian sang pencipta lagu pada kasus artis lainnya yang juga melakukan hal yang sama.

Kini penyanyi asal Dusun Tanjung, Desa/Kelurahan Pacekulon, Kecamatan Pace ini dilaporkan Polda Jawa Timur. Dan kasusnya ditangani Kejaksaan Negeri (Kejari) Nganjuk, setelah dilimpahkan oleh Polda Jawa Timur ke Kejaksaan Tinggi (Kejati) Surabaya sekitar awal tahun 2013 lalu.

Afqah Putra Ima Wijaya, staf Pidana Umum (Pidum) Kejati Surabaya menyampaikan, kasus dugaan perampasan hak cipta lagu dangdut berjudul Oplosan tersebut dilaporkan penciptanya di Polda Jatim. "Setelah kasusnya selesai ditangani Polda Jatim terus dilimpahkan ke Kejati, hari ini kami limpahkan ke Kejari Nganjuk, karena memang lokusnya di Nganjuk," jelas Afqah, Selasa, (04/12/2013) saat melimpahkan berkas perkara dan barang bukti berupa 8 keping CD yang berisi lagu-lagu Oplosan yang dinyanyikan Eni Sagita, di kantor Kejari Nganjuk.

Kasi Datun Kejari Nganjuk,Lutcas Rohman, SH menyampaikan, Eni dianggap telah melanggar pasal 72 ayat 1 Undang-Undang Nomor 19 tahun 2002 tentang Hak Cipta. Yang bersangkutan telah disangka menyanyikan lagu karya orang lain, merekam, kemudian menggandakan tanpa mendapatkan ijin dari penciptanya. Kini kejaksaan menetapkan status Eni Sagita sebagai tersangka dan segera dinaikkan sebagai terdakwa.

Walau status sudah ditetapkan, namun Eni Sagita belum akan ditahan dalam waktu dekat karena alasan yang bersangkutan memiliki anak kecil dan butuh perhatian orang tuanya. Namun syarat agar tersangka tetap berada di dalam kota dan tidak berusaha menghilangkan barang bukti harus tetap dipatuhi.

Buntut dari kasus ini Eni Sagita dikabarkan diancam pidana penjara paling lama tujuh tahun dan atau denda paling banyak lima miliar rupiah.